Ini Tantangan Membangun Infrastruktur Jaringan Backbone Telekomunikasi

Ini Tantangan Membangun Infrastruktur Jaringan Backbone Telekomunikasi

Jakarta, Fnsab Info – Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menyatakan Indonesia saat ini memiliki dua jaringan backbone yang melintas di kawasan Selatan dan Utara Indonesia. Jaringan backbone telekomunikasi itu menjadi penghubung antara Indonesia Barat, Tengah dan Timur untuk kebutuhan telekomunikasi dan transmisi data.

“Jaringan backbone ini penting sekali untuk transmisi data cepat dan dalam jumlah besar di seluruh kawasan negara kita,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan BTS dan Program Literasi Digital di Provinsi NTT, di Kupang.

Baca juga: Pengamat: Tanpa Adanya Backbone Fiber Optic, 5G Tidak Terlaksana  

Menurut Menkominfo, jaringan backbone yang menghubungkan antar pulau di Indonesia sangat banyak namun berada di dalam tanah dan bawah laut. sehingga tidak mudah terlihat. Menteri Johnny menjelaskan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, ada jaringan backbone yang menghubungkan Indonesia Barat ke Indonesia bagian Timur melalui wilayah Selatan.

“Kenapa melalui wilayah Selatan? Karena wilayah Selatan walaupun wilayah vulkanis, tetapi aktifitas bawah laut relatif lebih tenang dibandingkan wilayah utara,” jelasnya.

Karena secara teknis ada beberapa kendala yang kerap terjadi pada infrastruktur jaringan backbone telekomunikasi. Ia menyontohkan belum lama ini wilayah Utara Jayapura, Papua kabel fiber optik putus di kedalaman 4000 meter bawah laut.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa 5G Hanya Menyapa Kota Besar 

“Putusnya satu kabel mengakibatkan keseluruhan transmisi data Papua menjadi macet, dan backup hanya sederhana, hanya sedikit yang tidak mampu untuk menunjang seluruh kebutuhan komunikasi di Jayapura,” tandasnya.

Johnny memaparkan kedalaman 4000 meter di bawah laut sama dengan 400 bar, yang tekanannya sama beratnya dengan ratusan gajah.

Meskipun sempat mengalami kendala, Menkominfo menegaskan pihaknya bersama dengan operator seluler telah melakukan langkah-langkah yang cepat untuk memulihkan dan mengganti kabel bawah laut.

“Lalu menyiapkan kabel-kabel rute baru dan outering rute utara untuk fiber optik jaringan tulang punggung,” tuturnya.

Selain jaringan backbone, Kementerian Kominfo juga akan membangun jaringan di middle mile atau di tingkat tengah dari pembangunan infrastruktur TIK. Jaringan middle mile dibangun melalui microwave link.

Baca juga: Jaringan 5G Akan ‘Menyapa’ di Empat Wilayah Strategis ini  

Menurut Menkominfo, pada kuartal keempat tahun 2023 nanti, pemerintah akan memanfaatkan satu satelit yakni High Troughput Satelite untuk kebutuhan layanan publik di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur.

“Satu satelit 150 Mbps itu akan melayani 150 ribu titik layanan publik. Jadi Pak Gubernur (Gubernur NTT Viktor Laiskodat), tahun 2023 kami sudah mendata sekolah-sekolah, puskesmas, kantor-kantor desa, layanan publik, kantor polsek mana saja yang nanti akan disediakan internet yang dihubungkan langsung dengan satelit dan gratis, karena itu dibiayai oleh APBN Kominfo. Tentu harapannya infrastruktur ini dipakai dengan baik,” harap Menteri Johnny.

Baca juga: Komersialisasi 5G Mulai ‘Menyapa’, Perluasan Sinyal 4G Digenjot hingga Ujung Negeri

Kementerian Kominfo juga telah dan akan terus membangun infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) di wilayah 3T di seluruh Indonesia, untuk Provinsi NTT, Menkominfo menegaskan akan menyelesaikan sebanyak 421 BTS baru hingga tahun 2022.

“Layar ketiga yang paling ujung adalah Base Transceiver Station last mile untuk membangun BTS-BTS di seluruh Indonesia, khususnya wilayah 3T, termasuk di Nusa Tenggara Timur. Di NTT ada 421 BTS untuk 421 desa yang akan diselesaikan pada tahun 2021 ini dan tahun depan 2022, saya harapkan ini bisa dilakukan akselerasi sehingga lebih cepat,” tandas Menkominfo.